MAB-Indonesia:

Mensinergikan Konservasi Keanekaragaman Hayati, Pembangunan Ekonomi dan Pemberdayaan Budaya Nusantara untuk Kesejahteraan Bangsa Indonesia.!

Dukung kegiatan pengelolaan kawasan cagar biosfer di Indonesia:

  • Create Account
You are here: Home Cagar Biosfer 3. Tanjung Puting

Tanjung Puting

Cagar Biosfer Tanjung Puting

Cagar Biosfer Tanjung Puting memiliki beberapa tipe ekosistem yang terdiri dari hutan hujan tropika dataran rendah, hutan tanah kering, hutan rawa air tawar, hutan mangrove, hutan pantai dan hutan sekunder.

Kawasan ini didominasi oleh tumbuhan hutan dataran rendah seperti jelutung (Dyera lowii), ramin (Gonystylus bancanus), meranti (Shorea sp.),keruing (Dipterocarpus sp.), kayu ulin (Eusideroxylon zwagerii) dan rotan.

Jenis satwa langka endemik dan dilindungi yang terdapat pada hutan Taman Nasional Tanjung Puting antara lain orangutan (Pongo pygmaeus), bekantan (Nasalis larvatus), klampiau (Hylobates muellery), lutung merah (Presbytis rubicunda), beruang (Helarctos malayanus), sambar (Cervus unicolor), kijang (Muntiacus muntjak), kancil (Tragulus javanicus), macan dahan (Neofelis nebulosa), kucing hutan (Felis bengalensis), dan tupai (Calloscenrus notatus).

Taman Nasional Tanjung Puting merupakan lokasi pertama di Indonesia sebagai pusat rehabilitasi orangutan.

Terdapat 3 (tiga) buah lokasi untuk rehabilitasi orangutan yaitu :

  1. Tanjung Harapan.
  2. Pondok Tanggui.
  3. Camp Leakey.

Orangutan mempunyai bulu kemerah-merahan dan tidak memiliki ekor. Sejalan dengan pertumbuhan usianya, jantan dewasa mengembangkan pipinya hingga membentuk bantalan. Semakin tua, bantalan pipinya semakin besar sehingga wajahnya terkesan seram.

Taman Nasional Tanjung Puting merupakan salah satu yang ditetapkan oleh UNESCO sebagai cagar biosfir dan ditetapkan sebagai Sister Parks berdasarkan kerjasama Indonesia-Malaysia.

Beberapa lokasi/objek yang menarik untuk dikunjungi :

  1. Tanjung Harapan. Merupakan stasiun pertama dalam proses merehabilitasi orangutan. Lokasi ini berada di hutan sekunder dan hutan rawa yang dilengkapi dengan wisma tamu, pusat informasi dan jalan trail.

  2. Pondok Tanggui. Orangutan yang telah melalui tahapan setengah liar, dipindahkan ke Pondok Tanggui. Orangutan tersebut tetap diamati secara tertutup dan dihindari kontak dengan manusia.

  3. Camp Leakey. Didirikan pada tahun 1971. Camp Leakey yang berada di hutan primer merupakan tempat dari beberapa orangutan yang setengah liar sampai liar dan dari yang baru dilahirkan sampai usia tiga tahun (raja tua).

  4. Natai Lengkuas. Stasiun penelitian bekantan dan pengamatan satwa lainnya melalui sungai.

  5. Sungai Buluh dan Danau Burung. Pengamatan satwa burung terutama burung migran.

  6. Atraksi budaya di luar taman nasional yaitu di Pangkalan Bun berupa Kompetisi Tradisional Rowing pada bulan Mei.

Musim kunjungan terbaik : pada bulan Juni s/d September.

Cara pencapaian lokasi :
Jakarta - Semarang -Pangkalan Bun atau dengan Kapal Laut Semarang ke Pangkalan Bun. Dari Pangkalan Bun ke Kumai (8 Km) dilanjutkan dengan kendaraan darat. Selanjutnya dari Kumai ke Tanjung Harapan selama 1,5 - 2 jam (menggunakan klotok), atau Kumai - Natai Lengkuas selama 4 - 5 jam. Dengan menggunakan perahu cepat dari Kumai - Tanjung Harapan selama 0,5 - 1 jam, dari Kumai - Camp Leakey selama 1,5 - 2 jam, dan dari Kumai ke Natai Lengkuas selama 1,5 - 2 jam.

Temperatur udara 220 - 330 C
Curah hujan Rata-rata 2.400 mm/tahun
Ketinggian tempat 0 – 100 m dpl.

Diumumkan Menteri Pertanian, tahun 1982 dengan luas 300.040 hektar Dinyatakan Menteri Kehutanan, SK No. 587/ Kpts-II/1996 dengan luas 415.040 hektar Letak Kabupaten Kotawaringin, Propinsi Kalimantan Tengah.

Kantor : Jl. HM. Idris, Kumai Hulu, Kumai 74181 Kota

003544

Your IP: 192.168.0.135
Server Time: 2017-11-25 07:37:02

Our Blog News

Find Us On

Contact Us

Head Office:

4th Fl Kusnoto Build, Jl. Juanda No. 18, Bogor 16002

Telephone:

(62) 251-8325854

Email:

This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.