MAB-Indonesia:

Mensinergikan Konservasi Keanekaragaman Hayati, Pembangunan Ekonomi dan Pemberdayaan Budaya Nusantara untuk Kesejahteraan Bangsa Indonesia.!

Dukung kegiatan pengelolaan kawasan cagar biosfer di Indonesia:

  • Create Account
You are here: Home

Articles

Sejarah

Program MAB (Man And the Biosphere) Indonesia mempunyai sejarah yang cukup panjang, yang dimulai pada tahun 1972 setelah terbentuknya Program MAB Internasional di UNESCO (The United Nations Educationals, Scientific and Cultural Organization) pada tahun 1968. Secara struktural Panitia MAB Indonesia (Indonesian National Committee for MAB Programme) bernaung dibawah kedeputiaan Bidang Ilmu Pengetahuan Hayati LIPI dan dalam pelaksanaan programnya didukung oleh Program MAB Internasional UNESCO melalui kantor UNESCO Jakarta dan bekerjasama dengan Komite Nasional Indonesia untuk UNESCO (Indonesian National Commission for UNESCO) di Departemen Pendidikan Nasional.

Sepanjang waktu program MAB selalu disesuaikan, menjawab tantangan dan mengantisipasi masalah yang muncul di jamannya. Dokumen seperti "Indonesian Country Study on Biological Diversity" yang dihasilkan oleh Kantor Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup pada tahun 1993 maupun BAPPENAS yang merancang BAPI 1993 (Biodiversity Action Plan for Indonesia – 1993) dan sekarang dikembangkan menjadi IBSAP (Indonesian Biodiversity Strategy and Action Plan) tentu menjadi pertimbangan. Program Panitia Nasional MAB Indonesia tahun 2003 – 2007 diarahkan untuk menjawab tantangan peliknya menyelaraskan kepentingan konservasi keanekaragaman hayati dengan pembangunan ekonomi di era otonomi daerah dan reformasi.

Untuk mencapai misi Program MAB ini, pada tahun 1995 UNESCO menyelenggarakan pertemuan pakar internasional di Seville, Spanyol yang melahirkan strategi Seville (Seville Strategy). Strategi Seville merekomendasikan kegiatan aksi yang harus diambil untuk pengembangan kedepan cagar biosfer pada abad ke-21. Strategi ini tidak mengulangi prinsip dasar Konvensi Keanekaragaman Hayati (CBD : Convention on Biological Diversity) atau Agenda 21, tetapi mengidentifikasi peran khusus dari cagar biosfer dalam membangun visi baru tentang hubungan antara konservasi dan pembangunan.

Konferensi Internasional cagar biosfer, yang diadakan oleh UNESCO di Seville (Spanyol) pada tanggal 20-25 Maret 1995 mengadopsi dua sistem pendekatan :

  • Menelaah pengalaman masa lampau dalam melaksanan konsep baru cagar biosfer.
  • Melihat ke masa depan untuk mengidentifikasi penekanan yang harus diberikan saat ini terhadap tiga fungsi cagar biosfer, yaitu konservasi, pembangunan, dan dukungan logistik.

Konferensi Seville menyimpulkan bahwa walaupun terdapat permasalahan dan keterbatasan yang dihadapi dalam penetapan cagar biosfer, program tersebut secara keseluruhan merupakan program yang inovatif dan sukses. Khususnya ketiga fungsi dasar tersebut akan tetap berlaku sebagaimana pada tahun-tahun mendatang. dalam implementasi fungsi dasar cagar biosfer dan berdasarkan analisa yang dihasilkan, 10 kunci pengarahan berikut ini telah diidentifikasi dalam konferensi dan merupakan landasan bagi strategi seville yang baru :

  1. Memperkuat peranan yang dapat diberikan oleh cagar biosfer untuk mengimplementasikan perjanjian-perjanjian internasional dalam mempromosikan konservasi dan pembangunan berkelanjutan, terutama konvensi keanekaragaman hayati dan konvensi-konvensi lain, seperti konvensi perubahan iklim, desertifikasi dan kehutanan.

  2. Mengembangkan cagar biosfer yang meliputi berbagai kondisi keragaman lingkungan, biologi, ekonomi, dan budaya, mulai dari kawasan yang tidak menggalami gangguan dan menyebar hingga ke wilayah kota-kota. Terdapat potensi khusus, dan kebutuhan, untuk menerapkan konsep cagar biosfer di lingkungan pesisir dan kelautan.

  3. Memantapkan jaringan-jaringan cagar biosfer di tingkat regional, internasional dan jaringan tematik sebagai komponen dari jaringan cagar biosfer dunia.

  4. Meningkatkan kegiatan penelitian ilmiah, pemantauan, pelatihan dan pendidikan dalam cagar biosfer karena konservasi dan pemanfaatan sumberdaya dikawasan tersebut membutuhkan dasar pengetahuan alam dan sosial serta ilmu sastera. Kebutuhan ini khususnya diperlukan benar-benar untuk cagar biosfer di negara-negara yang memiliki keterbatasan sumber daya manusia dan dana sehingga perlu mendapatkan perhatian dan prioritas.

  5. Memastikan bahwa semua zona cagar biosfer memberikan kontribusi yang bermamfaat bagi konservasi, pembangunan berkelanjutan dan pemahamam ilmiah.

  6. Memperluas daerah transisi agar mencakup wilayah yang lebih luas sehingga dapat dilakukan berbagai pendekatan, seperti pengolahan ekosistem, dan pemamfaatan cagar biosfer untuk mengeksplorasi dan mendemonstrasikan pendekatan-pendekatan bagi pembangunan berkelanjutan di tingkat regional. Oleh karena itu daerah transisi harus mendapat perhatian yang lebih besar.

  7. Merefleksikan lebih besar dimensi kemanusian dari cagar biosfer. Keterkaitan antara keanekaragaman budaya dan hayati perlu ditampilkan. Kearifan tradisional dan sumberdaya genetik harus dilestarikan dan perannya dalam pembangunan berkelanjutan harus diakui dan ditingkatkan.

  8. Mempromosikan pengelolaan setip cagar biosfer sebagai suatu fakta esensial antara masyarakat lokal dan masyarakat umum secara keseluruhan Pengelolaan harus terbuka, berkembang dan dapat menyesuaikan diri. Pendekatan seperti ini akan membantu menjamin bahwa cagar biosfer dan masyarakat lokal ditempatkan pada posisi lebih baik untuk tekanan politik, ekonomi dan sosial yang datang dari luar.

  9. Mengajak seluruh pihak dan sektor yang terkait untuk membangun kemitraan dalam pengelolaan cagar biosfer baik ditingkat lapangan maupun jaringan yang ada. Informasi harus mengalir dengan mudah kesemua pihak yang berkepentingan.

  10. Investasi untuk masa depan. Cagar biosfer harus dimanfaatkan untuk memahami hubungan manusia dengan alam lingkungannya, melalui program kesadaran masyarakat, informasi dan pendidikan formal dan non formal, didasarkan pada perspektif jangka panjang bagi generasi sekarang ini dan generasi mendatang.

Oleh karena itu, Strategi Seville dibuat lebih terarah pada beberapa prioritas di tingkat internasional / global, nasional, dan lokal untuk :

  1. Memakai cagar biosfer untuk konservasi keanekaragaman alam dan budaya.

  2. Memanfaatkan cagar biosfer sebagai model pengelolaan lahan dan pendekatan untuk pembangunan yang berkelanjutan.

  3. Memakai cagar biosfer untuk penelitian, pemantauan, pendidikan, dan pelatihan.

  4. Implementasi konsep cagar biosfer.

003553

Your IP: 192.168.0.135
Server Time: 2017-11-25 07:37:54

Our Blog News

Find Us On

Contact Us

Head Office:

4th Fl Kusnoto Build, Jl. Juanda No. 18, Bogor 16002

Telephone:

(62) 251-8325854

Email:

This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.